Samsat Night Bekasi: Mengakhiri Era Antrean Siang, Memulai Era Layanan Fleksibel

Samsat Night Bekasi: Mengakhiri Era Antrean Siang, Memulai Era Layanan Fleksibel

Bekasi (Global Media Kencana)– Selama puluhan tahun, membayar pajak kendaraan identik dengan perjuangan: izin kerja di siang hari, menghadapi kemacetan menuju kantor pusat, hingga terjebak dalam barisan antrean yang menjemukan. Namun, pemandangan di Kafe Mono, Pekayon Jaya pada Rabu (14/1/2026) malam, menandai berakhirnya era kaku tersebut. P3DW Kota Bekasi resmi meluncurkan Samsat Night, sebuah eksperimen berani yang menempatkan kenyamanan warga di atas prosedur administratif konvensional.

Inovasi ini merupakan pengakuan jujur dari pemerintah bahwa struktur jam kerja “9-to-5” sudah tidak lagi kompatibel dengan ritme hidup masyarakat urban Bekasi yang memiliki mobilitas tinggi.

Alih-alih memaksa warga datang ke gedung pemerintahan, Samsat Night memilih hadir di “ruang ketiga” tempat masyarakat bersosialisasi dan melepas penat. Keputusan menempatkan layanan di sebuah kafe bukan sekadar strategi pemasaran, melainkan upaya mendobrak psikologi birokrasi yang selama ini dianggap mengintimidasi.

Kepala P3DW Kota Bekasi, Dani Hendrato, menegaskan bahwa Samsat Night adalah bentuk empati negara terhadap warganya. “Masyarakat Bekasi adalah masyarakat pekerja. Jika kita tetap menggunakan cara-cara lama, maka kita sendiri yang menciptakan hambatan bagi warga untuk taat pajak. Samsat Night hadir sebagai alternatif yang menghargai waktu dan aktivitas harian mereka,” jelasnya.

Layanan yang beroperasi setiap Senin malam 18.00–21.00 WIB ini membuktikan bahwa efisiensi bisa berjalan beriringan dengan kenyamanan. Di sini, berkas-berkas pajak diproses di antara meja-meja kopi dan alunan musik, menciptakan suasana di mana kewajiban warga negara tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan bagian dari rutinitas sosial yang menyenangkan.

Dampak dari pergeseran paradigma ini langsung terasa. Laras, seorang warga Bekasi Timur, menyebut layanan ini sebagai “penyelamat” bagi keluarganya. Tanpa harus meminta izin atasan atau memotong jam kerja, suaminya dapat menyelesaikan kewajiban pajak motor mereka dalam suasana yang jauh dari stres.

“Ini bukan cuma soal bayar pajak, tapi soal bagaimana pemerintah menghargai waktu kami sebagai pekerja. Sambil menunggu proses yang cepat, kami bisa santai sejenak. Sangat jauh berbeda dengan suasana kantor Samsat yang biasa,” ungkap Laras.

Dari sisi fiskal, keberadaan Samsat Night menjadi mesin baru untuk optimalisasi pendapatan daerah. Dengan memperluas jendela waktu pembayaran, celah bagi warga untuk menunda pembayaran pajak karena alasan “tidak sempat” kini mulai tertutup.

Meski saat ini baru tersedia satu kali dalam seminggu, Samsat Night dipandang sebagai prototipe masa depan pelayanan publik di Jawa Barat. Dani Hendrato mengungkapkan bahwa evaluasi terus dilakukan tidak hanya untuk menambah jadwal, tetapi juga untuk memetakan titik-titik krusial lainnya seperti pusat perbelanjaan dan kawasan industri.

“Kami sedang memikirkan kenyamanan jangka panjang, baik bagi warga maupun personel kami. Visi kami adalah membawa Samsat ke tempat-tempat yang paling memudahkan warga, mungkin ke mall atau langsung ke pusat-pusat perusahaan besar,” tambah Dani.

Samsat Night Bekasi telah mengirimkan pesan kuat ke daerah lain: bahwa birokrasi tidak boleh statis. Ketika kebutuhan masyarakat berubah, maka wajah pelayanan publik harus ikut bertransformasi meski itu berarti harus keluar dari gedung megah dan masuk ke hangatnya suasana kedai kopi.(*/Yolan)

Share this content:

Post Comment

Nasional