Tak Terjangkau Warga DKI, Penyelenggaraan PRJ 2026 Menuai Kritik
GLOBALMEDIAKENCANA | Jakarta – Pekan Raya Jakarta atau Jakarta Fair 2026 resmi dibuka oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung pada 12 Juni 2026. Ajang yang telah berlangsung sejak tahun 1968 ini memasuki penyelenggaraan yang ke-57 kali. Namun di balik sejarah panjangnya, pelaksanaan tahun ini menuai kritik dari sejumlah pihak.
Tahun ini, panitia menetapkan harga tiket masuk mulai Rp40.000 per orang. Sementara untuk akses khusus seperti tiket VIP dan menonton pertunjukan konser, harganya mencapai ratusan ribu rupiah. Besaran biaya yang ditetapkan itu dinilai terlalu tinggi dan sulit dijangkau oleh sebagian besar warga ibu kota.
Salah satu yang menyampaikan pendapatnya adalah Rudi Darmawanto, SH, Ketua Poros Rawamangun. Menurutnya, pada dasarnya PRJ digelar untuk memeriahkan peringatan Hari Ulang Tahun Jakarta, sehingga semestinya dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
“Tujuan awalnya agar warga tidak hanya merasa terhibur, tapi juga ikut merasakan kebersamaan dalam merayakan hari jadi kota serta bangga atas kemajuan yang telah dicapai. Itulah cita-cita mendiang Gubernur Ali Sadikin saat pertama kali mencetuskan acara ini,” ujar Rudi kepada wartawan di Jakarta, Minggu (14/6/2026).
Namun menurut pengamatannya, kini PRJ telah berubah arah. Ia menilai ajang ini lebih berfungsi sebagai ladang mencari keuntungan sebesar-besarnya bagi penyelenggara dan pihak terkait. Hal ini terlihat jelas dari tarif masuk yang terasa berat di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang masih dihadapkan pada tingginya biaya kebutuhan sehari-hari.
“Kalau kondisinya seperti ini, maka PRJ bukan lagi pesta rakyat. Tidak ada manfaatnya bagi warga, malah terasa menjadi beban. Ini jelas menyimpang dari visi dan misi pendirian acara tersebut,” tegasnya.
Oleh sebab itu, Rudi mendesak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk segera mengevaluasi sistem penyelenggaraan PRJ tahun ini. Ia menilai alasan kenaikan harga tiket untuk menutupi biaya operasional tidak masuk akal.
“Padahal pendapatan dari sewa tempat pameran dan dukungan sponsor dari berbagai perusahaan sudah sangat besar. Sangat ganjil jika akhirnya PRJ justru tidak berpihak pada warga. Sungguh disayangkan jika penduduk asli dan warga Jakarta sendiri tidak bisa ikut menikmati perayaan hari jadi kotanya,” tutup Rudi. (YL)
Share this content:



Post Comment