Ekspor Lampung Tumbuh 43,29 Persen, Surplus Perdagangan Tembus US$332,19 Juta
Bandar Lampung – Provinsi Lampung mencatat kinerja perdagangan luar negeri yang positif pada April 2026. Nilai ekspor Lampung mencapai US$504,59 juta, meningkat 43,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, neraca perdagangan daerah tetap mencatatkan surplus yang kuat sebesar US$332,19 juta.
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Provinsi Lampung, Ganjar Jationo, mengatakan data tersebut berdasarkan rilis resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung pada 2 Juni 2026.
Menurutnya, secara kumulatif selama periode Januari–April 2026, nilai ekspor Provinsi Lampung mencapai US$1,89 miliar. Meski mengalami koreksi tipis sebesar 2,09 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025, kinerja ekspor Lampung masih menunjukkan fundamental yang kuat dengan dukungan komoditas unggulan daerah.
“Mayoritas aktivitas ekspor masih dilakukan melalui pelabuhan yang berada di wilayah Lampung. Dari total ekspor Januari–April 2026, sebesar 83,28 persen atau senilai US$1,57 miliar dikirim melalui pelabuhan di Lampung, sedangkan sisanya sebesar 16,72 persen atau US$315,22 juta melalui pelabuhan di luar daerah,” ujar Ganjar, Jumat (5/6/2026).
Amerika Serikat Jadi Tujuan Ekspor Utama
Pasar ekspor Lampung juga dinilai cukup terdiversifikasi. Tiga negara tujuan utama ekspor selama Januari–April 2026 yakni:
– Amerika Serikat: 15,38 persen
– Tiongkok: 12,46 persen
– Pakistan: 9,33 persen
Komoditas yang menjadi penopang utama ekspor Lampung masih didominasi kelompok Lemak dan Minyak Hewan/Nabati, dengan kontribusi mencapai 47,17 persen dari total ekspor atau senilai US$889,42 juta.
Dominasi komoditas tersebut menunjukkan kuatnya peran sektor perkebunan serta industri pengolahan berbasis sumber daya alam dalam menopang perekonomian daerah.
Impor April Meningkat, Namun Secara Kumulatif Turun
Di sisi lain, aktivitas impor Provinsi Lampung pada April 2026 tercatat sebesar US$172,40 juta, meningkat 51,56 persen dibandingkan April 2025. Kenaikan tersebut mencerminkan meningkatnya kebutuhan bahan baku dan penunjang produksi guna mendukung aktivitas ekonomi dan industri di daerah.
Meski demikian, secara kumulatif nilai impor Lampung selama Januari–April 2026 mencapai US$489,26 juta, atau turun signifikan sebesar 39,04 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$802,59 juta.
“Amerika Serikat menjadi negara asal impor terbesar dengan kontribusi 25,09 persen, diikuti Thailand sebesar 12,64 persen, dan Australia sebesar 11,90 persen,” kata Ganjar.
Adapun komoditas impor terbesar berasal dari kelompok Ampas dan Sisa Industri Makanan dengan nilai US$68,90 juta atau berkontribusi 14,08 persen terhadap total impor. Selanjutnya disusul kelompok Pupuk sebesar US$67,32 juta atau 13,76 persen dari total impor.
Surplus Perdagangan Perkuat Ketahanan Ekonomi Daerah
Pemerintah Provinsi Lampung menegaskan bahwa keberhasilan menjaga surplus perdagangan merupakan salah satu indikator positif ketahanan ekonomi daerah. Dengan nilai ekspor yang secara konsisten lebih tinggi dibandingkan impor, Lampung mampu mempertahankan tren surplus perdagangan sepanjang tahun 2026.
Surplus neraca perdagangan sebesar US$332,19 juta pada April 2026 diharapkan dapat semakin memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah, meningkatkan perolehan devisa, serta mendukung upaya pemerintah dalam memperluas pasar ekspor dan meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan.
“Kinerja perdagangan luar negeri yang positif ini menjadi bukti bahwa produk-produk unggulan Lampung masih memiliki daya saing tinggi di pasar internasional. Pemerintah Provinsi Lampung akan terus memperkuat dukungan terhadap sektor ekspor melalui peningkatan kualitas produk, penguatan hilirisasi, serta perluasan akses pasar global,” demikian komitmen Pemerintah Provinsi Lampung dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
(Redaksi | Sumber: Dinas Kominfotik Provinsi Lampung)
Share this content:



Post Comment